Waktu dan Lokasi Terjadinya Fenomena Supermoon di Tahun 2019

Waktu dan Lokasi Terjadinya Fenomena Supermoon di Tahun 2019


Berita Indonesia - Fenomena astronomi yang akan terjadi pada awal tahun 2019 ini. Fenomena astronomi ini yang akan terjadi adalah gerhana bulan yang diprediksi atau di perkirakan akan terjadi pada 21 Januari 2019 mendatang ini.
Peneliti yang di lakukan oleh Lembaga Antariksa Nasional (Lapan) Dr Rhorom Priyatikanto menyebutkan, gerhana bulan ini tidak bisa dilihat di seluruh wilayah yang ada di Indonesia. Namun, fenomena astronomi ini akan terlihat jelas di negara-negara yang berada di Benua Amerika dan bahkan di benua Eropa.
Bulan itu hanya bisa dilihat di daerah Benua Amerika dan Eropa, Pada saat yang sama kita itu sedang siang hari matahari itu sedang ada di bawah horison sehingga seluruh wilayah Indonesia tidak akan bisa melihat gerhana tersebut, ucap Rhorom saat on air di PRFM.
Meski demikian, lanjut kata dari Rhorom, pada malam harinya warga Indonesia bisa melihat bulan purnama yang lebih besar dari biasanya. Fenomena ini dikenal dengan istilah supermoon.

Sejarah Supermoon :

Supermoon adalah peristiwa atau fenomena langit yang saat ini Bulan berada dalam jarak tredekatnya dengan Bumi, dan peristiwa langit ini akan selalu terjadi saat Bulan sedang dalam tahap purnama. Sebutan supermoon ini baru ditemukan pada tahun 1979 oleh Richard Nolle, dan peristiwa ini langit tersebut akan disebut supermoon kalau bulan berada pada jarak sekitar 90 persen dari titik yang terdekatnya dengan Bumi.

Fenomena astronomi :

Rhorom menjelaskan, untuk fenomena supermoon tersebut akan mulai bisa dilhat pada saat ini atau pada tanggal 21 Januari 2019 pukul 18.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB di pagi harinya atu di esok harinya.
Ketika fenomena supermoon ini akan terjadi, maka jarak bulan dan bumi akan lebih dekat dari biasanya. Oleh karenanya gaya gravitasi bulan terhadap bumi akan menjadi lebih besar.
Ketika bulan lebih dekat dengan bumi maka gaya gravitasi yang diberikan oleh bulan tersebut akan lebih besar. kalau kita kalkulasi baik gravitasi yang ditimbulkan oleh bulan itu kira-kita 12 persen lebih besar dibandingkan rata-rata. Efeknya, pasang surut yang ditimbulkan bisa mencapai 18 persen, jelas Rhorom.
Untuk itu, Rhorom mengimbau warga di pesisir pantai untuk lebih memperhatikan tinggi gelombang yang akan lebih tinggi, terlebih di musim panca roba yang biasanya dibarengi dengan angin yang cukup kencang.
Gerhana bulan merupakan salah satu fenomena astronomi yang bisa dihitung atau diprediksi kapan terjadinya.

Tahun 2019 :

Di tahun 2019 ini, Rhorom menyebutkan, akan ada 2 gerhana bulan yang akan terjadi.
Tahun ini penduduk bumi akan 2 kali melihat gerhana bulan. Yang pertama tanggal 21 Januari nanti, dan yang kedua tanggal 16 Juli 2019," sebutnya. Jika gerhana bulan pada 21 Januari 2019 nanti warga Indonesia tidak bisa melihat gerhana bulan, maka untuk gerhana bulan di 16 Juli 2019 bisa dilihat oleh warga Indonesia. Untuk tanggal 16 Juli nanti kita bisa saksikan gerhana bulan sebagian itu menjelang terbit matahari terutama di daerah timur," tukasnya.

Berikut fase atau tahapan sampai terjadi dan berakhirnya gerhana bulan total atau supermoom :

  1. Bulan Penumbra masuk di Bumi : Dan kerucut bayangan Bumi memiliki dua bagian yaitu bagian gelap disebut umbra, yang dikelilinginya dan bagian yang lebih terang disebut penumbra. Penumbra adalah bagian luar dari bayangan Bumi yang tampak sangat pucat. Gerhana resmi dimulai ketika bulan memasuki penumbra. Pada tahap ini di 2019 Anda tak akan melihat hal aneh pada bulan. Bayangan penumbra di Bumi begitu lemah sehingga tidak terlihat sampai bulan tenggelam sepenuhnya atau seutuhnya dalam bayangan di Bumi. Di sini kita harus menunggu sampai penumbra mencapai hingga 70 persen menutupi lingkaran pada bulan tersebut. Oleh karena itu harus menunggu kurang lebih selama sekitar 40 menit setelah awal terjadinya gerhana sebagian itu. Bulan purnama akan terus muncul untuk menerangi seperti biasa, kendati dari menit ke menit bulan kian masuk bagian luar bayangan dari Bumi itu. 
  2. Bayangan Penumbra sendiri akan mulai terlihat jika bulan bergerak cukup jauh ke dalam penumbra sehingga bayangan di Bumi akan kelihatan sangat jelas di Bulan. Mulai terlihat sangat lembut, cahaya pada bayangan sudah mulai muncul di bagian sisi kiri Bulan. Ini akan makin jelas terlihat jika pada menit ke menit setelahnya di mana bayangan menjadi menyebar dan kian dalam kelihatan. Beberapa saat sebelum bulan mulai masuk bayangan umbra gelap pada Bumi, penumbra memudarkan bayangan bulan pada sisi sebelah kiri. 
  3. Saat bulan masuk pada fase umbra Bumi, Bulan akan mulai melintas masuk ke bagian bayangan gelap pada Bumi yang disebut umbra. Bagian gelap ini akan mulai muncul di sisi kiri bulan. Gerhana bulan sebagian mulai terjadi jika kecepatan perubahannya berlangsung dramatis. Umbra jauh lebih gelap dibandingkan dengan penumbra saat terjadinya di bumi. Saat Menit-menit berlalu, bayangan gelap akan mulai muncul perlahan di permukaan bulan. Pada awalnya tungkai bulan terlihat hilang di dalam umbra, akan tapi segera muncul kembali setelah itu begitu bulan akan makin masuk ke dalam umbra, Disini anda bakal melihat pendaran cahaya remang-remang jingga, merah atau abu-abu yang mulai nampak kelihatan sangat indah. akan tetapi bayangan Bumi yang terpancarkan ke Bulan pun akan terlihat melengkung. Ini menjadi bukti nyata bahwa Bulan itu benar - benar bulat berbentuk bola seperti disimpulkan Aristoteles dari gerhana bulan yang dia amati pada abad keempat Sebelum Masehi. Begitu kegelapan sudah mulai perlahan menyergap, akan terjadi lanskap di sekitar bulan dan bayangan dalam cahaya bulan tersebut akan mulai sirna pada malam hari.
  4. Saat 75 persen masuk umbra anda akan mengingat tiga perempat pada lingkaran Bulan kini ditutup umbra, bagian bulan yang tenggelam ke dalam bayangan Bumi menjadi agak sedikit terang kembali, bagaikan besi yang dipanaskan pada titik di mana itu besi akan memijarkan cahaya. Kini akan terlihat jelas bayangan umbra tidak menciptakan kegelapan total pada permukaan bulan. Dengan mengunakan teropong atau teleskop, bagian luar bayangan Bumi itu biasanya cukup nampak terang untuk memperlihatkan kawah pada Bulan, tapi bagian tengahnya lebih gelap dan kadang-kadang permukaannya tak bisa terlihat. Warna warni umbra sangat berbeda dari gerhana satu ke gerhana berikutnya yang akan terjadi, merah dan abu-abu, lalu kadang-kadang coklat juga,dan bahkan akan terlihat biru dan lainnya. 
  5. Kurang lima menit dari totalitas yang terjadi dan beberapa menit sebeleum setelah totalitas atau gerhana total, perbedaan kontras antara cahaya kuning dan perak pucat dan coklat kemerahan dari permukaan bulan akan menyebar ke seluruh sisi lingkaran pada Bulan yang akan menciptakan fenomena indah yang jarang terjadi yang kadang disebut “Efek Lentera Jepang”. 
  6. Gerhana bulan total akan mulai muncul ketika bagian terakhir Bulan masuk umbra, maka gerhana bulan total pun mulai. Bagaimana bulan akan muncul kembali selama priode total tak ada yang tahu soal kapan akan muncul kembali ini fenomena. Kadang-kadang gerhana bulan total memunculkan kesan hitam abu-buat gelap yang hampir tak bisa dilihat oleh semua orang di penjuru dunia. Tapi saat ini Bulan juga bisa memercikan jingga terang. Faktor yang membuat bulan bisa dilihat penuh saat gerhana total adalah saat cahaya matahari disebarkan dan dibiaskan ke sekeliling sisi Bumi oleh atmosfer kita. 
  7. Setengah gerhana total pad Bulan kini bersinar sekitar 10.000 atau 100.000 kali redup dari pada beberapa jam sebelumnya. Karena bulan bergerak ke sisi selatan dari bagian tengah umbra pada Bumi, gradasi pada warna dan tingkat keterangannya di sisi lingkaran Bulan menjadi terlihat lebih gelap, dengan rona abu-abu kecoklatan. Sementara itu, bagian bawahnya bulan, yakni bagian di mana Bulan berada paling dekat ke tepi luar sisi umbra, maka warnanya akan menjadi lebih sangat terang, dengan rona kemerahan, jingga, dan bahkan putih lembut kebiruan. Pengamat yang berada jauh pada sinar yang terang perkotaan akan terlihat bintang-bintang menjadi terlihat lebih besar ketimbang saat sebelum gerhana. Bulan akan berada pada sisi konstelasi redup dimana Cancer dan letaknya hampir di tengah antara Rasi Leo di timur (kiri atas) dan Rasi Gemini di barat (kanan bawah Bulan). 
  8. Kegelapan pada langit saat ini sangat menakjubkan. Lanskap di sekelilingnya akan dibalut rona suram. Sebelum gerhana, bulan purnama akan terlihat datar dan satu dimensi. Akan tetapi selama gerhana total terjadi, maka bulan purnama menjadi terlihat lebih kecil dan tiga dimensi. Sebelum bulan masuk dalam bayangan Bumi, suhu di permukaannya akan bisa mencapai 266 derajat Fahrenheit (130 derajat Celsius). 
  9. Karena bulan tidak memiliki atmosfer, maka panas ini tak akan bisa dipantulkan ke ruang angkasa ketika bayangan Bumi melewatnya. jika, berada dalam bayangan Bumi, suhu pada bulan akan turun drastis menjadi 146 derajat F dan (minus 99 C), atau akan turun 412 derajat F bahkan 229 derajat C, kurang dari 150 menitan.
  10. Gerhana bulan total ini akan berakhir, pada saat bulan mulai muncul dari sisi bayang-bayang umbra. Segmen kecilnya pertama dari Bulan mulai muncul lagi, diikuti kembali beberapa menit kemudian oleh Efek Lentera Jepang. 
  11. Pada 75 persen bulan akan muncul kembali lagi, Sisa warna di dalam umbra kini mulai terlihat lenyap. Dari sini lah terlihat bayangan setelah bayangan gelap ini secara teori semestinya meninggalkan cakram bulan, bulan ini akan terlihat hitam dan tak berbentuk lagi. 
  12. Bulan meninggalkan umbra pada Bayang-bayang sisi tengah nan gelapnya dan membuat bagian sisi kanan bulan (di barat) terlihat sangat jelas. 
  13. Bayangan penumbra akan lenyap pada akhirnya, bayangan samar ini hilang dari bulan, dimana gerhana bulan ini akan mulai berakhir. 
  14. Bulan akan meninggalkan penumbra, dan Gerhana Resmi telah berakhir, sehingga begitu bulan telah sepenuhnya bebas dari bayangan penumbra. selamat menikmati indahnya gerhana bulan atau Supermoom.



Sumber : befren.com

Sumber : prfmnews.com

Waktu dan Lokasi Terjadinya Fenomena Supermoon di Tahun 2019